Musiclive.id | Memerankan karakter utama dalam film Juminten Edan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi aktris Meisya Amira. Tak hanya dituntut menyampaikan emosi yang kompleks, ia juga harus mempelajari bahasa isyarat dan menjalani latihan fisik intensif demi menghidupkan karakter Juminten.
Film garapan sutradara Dedy Mercy ini menghadirkan sosok Juminten sebagai perempuan tunarungu dan tunawicara yang berjuang mempertahankan anaknya di tengah teror dan konflik keluarga.
Meisya mengaku tantangan terbesar bukan hanya membangun emosi karakter, tetapi juga mempelajari cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat yang sebelumnya sama sekali belum pernah ia kuasai.
“Saya harus mempelajari bahasa isyarat dan memerankan sosok tunawicara sekaligus tunarungu. Itu sangat sulit karena sebelumnya saya belum pernah mempelajarinya,” ungkap Meisya Amira saat konferensi pers di Epicentrum XXI.
Selama dua minggu, Meisya mengikuti workshop intensif bersama pelatih khusus yang juga merupakan penyandang tunarungu. Menurutnya, proses tersebut membuka sudut pandang baru tentang bagaimana menyampaikan emosi tanpa mengandalkan dialog.
Tak hanya itu, ia juga harus menjalani latihan koreografi laga hampir setiap hari selama produksi berlangsung.
“Tidak pernah ada hari syuting tanpa latihan,” katanya.
Sutradara Dedy Mercy mengungkapkan bahwa seluruh adegan aksi dalam film lahir secara alami dari perjalanan karakter Juminten.
“Karakter Juminten tidak boleh terlihat seperti seorang petarung sejak awal. Biarkan sisi petarung itu muncul karena sebuah kebutuhan,” ujar Dedy.
Baginya, kekuatan terbesar karakter tersebut justru terletak pada naluri seorang ibu yang rela melakukan apa saja demi keselamatan anaknya.
Dengan perpaduan horor psikologis, drama keluarga, dan aksi, Juminten Edan siap memberikan pengalaman berbeda bagi penonton saat tayang di bioskop mulai 23 Juli 2026. nic


