Musiclive.id | Ada kalanya musik tidak hanya hadir untuk menemani perjalanan, pesta, atau momen romantis. Musik juga bisa menjadi cermin. Itulah yang coba dilakukan ParaSuami melalui single perdana mereka, “JAMED (Jaman Edan)”.
Band yang diperkuat sejumlah mantan personel Funky Kopral ini memilih memperkenalkan identitas mereka dengan sebuah lagu yang cukup berani menyentuh realitas sosial.
“JAMED” merupakan singkatan dari Jaman Edan, istilah yang digunakan ParaSuami untuk menggambarkan kegelisahan mereka melihat berbagai kondisi yang berlangsung di masyarakat.
Bukan tanpa alasan mereka memilih tema tersebut. Para personel ParaSuami mengaku mendapatkan inspirasi dari berbagai fenomena sosial yang mereka amati sendiri.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah persoalan mengenai pejabat yang dianggap tidak amanah setelah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
“Makna dari lagu JAMED itu sendiri memang relate dengan kondisi saat ini, di mana banyak pejabat yang tidak amanah atau tidak sesuai dengan janji-janji saat mereka kampanye atau mencalonkan diri sebagai wakil rakyat,” ujar ParaSuami.
Namun, band ini tidak ingin menjadikan musik sebagai ruang untuk sekadar mengeluh. Keresahan justru diolah menjadi karya yang bisa didengarkan siapa saja.
Bagi ParaSuami, musik adalah bahasa yang cukup fleksibel untuk menyampaikan sesuatu yang serius tanpa harus kehilangan unsur hiburan.
Pendekatan tersebut terlihat dari cara mereka membangun musik. Tidak ada keinginan untuk terjebak pada satu formula tertentu.
“Secara musikalitas, kami memainkan apa yang kami suka dengan menyesuaikan tema dari isi lagunya,” kata mereka.
“JAMED” sendiri digarap melalui kolaborasi Wisnu Pamungkas dan Fajarudin alias Fajar Gimbot. Wisnu menggarap musik, sementara Fajarudin menuangkan gagasan ke dalam lirik.
Keduanya kemudian menyatukan pengalaman bermusik yang dimiliki para personel menjadi sebuah karya yang menjadi pembuka perjalanan ParaSuami.
Meski memakai nama baru, band ini sebenarnya memiliki fondasi yang cukup panjang. Para personelnya telah saling mengenal dan kerap bermain musik bersama.
“Untuk tantangannya hampir tidak ada, karena kami memang sudah sering main bareng sebelum membentuk brand baru yaitu ParaSuami,” ungkap mereka.
Hal tersebut membuat ParaSuami dapat lebih leluasa bereksperimen. Mereka tidak harus memulai semuanya dari nol karena masing-masing personel telah memiliki pengalaman di industri musik.
Di sisi lain, perubahan teknologi juga menjadi tantangan sekaligus peluang. ParaSuami melihat industri musik sekarang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu.
“Perkembangan musik saat ini memang jauh berbeda, mulai dari proses recording yang sekarang jauh lebih mudah dibanding era 90-an yang masih analog. Kami mencoba mengikuti apa yang terjadi di era saat ini agar tetap eksis dan terus beradaptasi,” jelasnya.
Kini, ParaSuami ingin menjadikan “JAMED” sebagai pintu masuk menuju perjalanan yang lebih panjang. Mereka telah mempersiapkan single berikutnya dan berencana merilis mini album.
“JAMED menjadi awal bagi ParaSuami untuk memberitahu kepada pecinta musik Indonesia bahwa kami akan terus menyuarakan isi hati kami dan mengekspresikannya dalam bentuk karya musik,” tuturnya.
Jika rencana tersebut berjalan mulus, “JAMED” mungkin hanya menjadi pembuka dari serangkaian cerita ParaSuami dalam menerjemahkan kegelisahan sosial menjadi musik yang lebih dekat dengan pendengar. nic


