Musiclive.id | Sebuah kolaborasi musik tidak selalu dimulai dari konsep yang sudah selesai. Terkadang, justru materi sederhana yang membuka kemungkinan baru ketika dipertemukan dengan karakter beberapa musisi.
Hal tersebut terjadi dalam proses kelahiran “Juara Dua”, single keempat dari EP Garis Tegak yang mempertemukan Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus.
Awalnya, White Chorus membawa enam pilihan beat untuk dikembangkan. Dari seluruh materi tersebut, draft keenam akhirnya menjadi titik awal lagu.
Materi itu sebenarnya sangat sederhana. Hanya terdapat beberapa bar, drum break, serta gitar akustik. Bahkan, sempat muncul keputusan untuk menyimpannya karena tidak sejalan dengan konsep awal EP yang ingin menghadirkan musik lebih elektronik dan menghentak.
Namun, Ari Lesmana justru menemukan daya tarik dari kesederhanaan tersebut.
Ia menyukai nada dan rasa mentah yang terdapat di dalam draft. Setelah beberapa kali memutar materi tersebut, ketiganya kemudian sepakat untuk membawanya ke tahap berikutnya.
Proses pengembangan pun perlahan mengubah bentuk lagu. Bagian yang lebih tenang dengan gitar akustik mulai muncul, termasuk perubahan nada di tengah pola awal yang repetitif.
Bagi Ari, bagian tersebut menjadi salah satu momen ketika karakter Lafa, dirinya, dan White Chorus mulai benar-benar melebur.
Sementara itu, Emir dari White Chorus menjelaskan bahwa karakter drum break tetap dipertahankan. Namun, sampel drum yang digunakan dalam versi awal akhirnya berkembang menjadi permainan drum yang direkam ulang.
Kolaborasi juga terjadi pada bagian vokal. Setelah mendengar rekaman Friska yang dibuat lebih dahulu, Ari memilih mengambil suara di bawahnya.
Pertemuan warna vokal tersebut justru menciptakan tekstur yang berbeda. Friska mendapatkan ruang untuk menonjol, sementara karakter vokal Ari tetap terasa kuat melalui register yang lebih rendah.
Keduanya kemudian bergantian berbagi register dan suara kedua.
Bagi Lafa, pendekatan tersebut bukan sekadar persoalan teknis vokal. Ia melihat keduanya membawa satu konteks cerita yang sama.
Proses penulisan pun dilakukan secara bertahap. Dalam dua pertemuan utama, sesi pertama digunakan untuk membangun musik dan melodi melalui pertukaran referensi.
Pada pertemuan berikutnya, Lafa membawa potongan percakapan yang sebelumnya ia simpan dalam notes. Materi tersebut kemudian dikembangkan menjadi lirik.
Dengan demikian, “Juara Dua” tumbuh secara organik dari percakapan, pengalaman, serta keberanian setiap kolaborator untuk memberikan ruang kepada karakter satu sama lain.
Tema lagu mengenai hidup secukupnya pun akhirnya terasa selaras dengan proses pembuatannya. Tidak ada satu pihak yang berusaha menjadi pusat perhatian. Setiap elemen diberi ruang untuk berkontribusi.
Hasilnya adalah sebuah karya yang berbicara mengenai pilihan untuk tidak selalu berlari paling depan.
“Kita tuh gak lomba sama orang lain,” ujar White Chorus ketika menggambarkan keresahan yang turut menjadi dasar lahirnya lagu.
“Juara Dua” dirilis pada 6 Oktober 2026 di seluruh platform musik digital, lengkap dengan official lyric video. Video musiknya akan menyusul satu minggu kemudian melalui kanal YouTube KithLabo. nic


