Musiclive.id | Perjalanan Pestolaer menjadi salah satu bagian dari cerita perkembangan musik independen Jakarta sejak awal 1990-an. Band yang dibentuk pada 1992 tersebut kembali diperkenalkan kepada pendengar lintas generasi melalui album penghormatan Tribute to Pestolaer: Nothing Best But Friends.
Proyek yang diinisiasi popaktif.id bersama Lost Wave Record itu menghadirkan 12 band dengan latar dan pendekatan musikal berbeda. Mereka mengolah kembali lagu-lagu Pestolaer untuk memberikan perspektif baru terhadap karya yang tumbuh dari skena musik independen.
Pestolaer dibentuk oleh Taba sebagai vokalis, Nyoman sebagai gitaris, P.A sebagai pemain bass, dan Boris sebagai drummer. Pada masa awal, mereka menjadi bagian dari gelombang pertama punk rock di lingkungan underground Jakarta. Sejumlah lagu Sex Pistols juga masuk dalam materi yang mereka bawakan.
Akan tetapi, perjalanan Pestolaer tidak berhenti pada punk rock. Pada 1994, mereka mengambil langkah untuk mengubah arah musikal menuju indie rock dan Madchester. The Charlatans dan The Stone Roses menjadi beberapa nama yang memengaruhi perkembangan musikal mereka.
Perubahan tersebut memperlihatkan dinamika band dalam menemukan identitasnya sendiri. Perjalanan dari punk rock menuju indie rock dan Madchester kemudian menjadi salah satu konteks penting untuk memahami karya-karya Pestolaer.
Album Nothing Best But Friends meneruskan cerita tersebut melalui interpretasi dari band-band lintas generasi. And Bellyaches menggarap “Colours”, Fuzzya membawakan “Istana Pasir”, dan Shakaboyd menghadirkan versi “Lay Down”. Sementara itu, The Corner Of My Room menginterpretasikan “Terlalu Melamun” dan The Portray membawakan “Pemimpin Cahaya”.
Total ada 12 band yang berpartisipasi, termasuk Furs, Gudtings, Kebunku, Lipgloss, Lucy Enigma, The Bunbury, The North Palm, dan The Corner Of My Room.
Setiap band mengerjakan mixing untuk materi masing-masing, sedangkan mastering keseluruhan ditangani Danu Ega Haryanto. Susunan kerja tersebut memberikan ruang bagi para musisi untuk mengeksplorasi lagu-lagu Pestolaer melalui pendekatan mereka sendiri.
Album ini dijadwalkan hadir dalam format kaset pada 11 Oktober 2026. Pada tanggal yang sama, hearing session akan digelar di Psychocandy Records, Kemang, Jakarta Selatan, dengan melibatkan sejumlah pelaku musik dan pegiat skena independen.
Rangkaian proyek juga mencakup kolaborasi merchandise dengan Gingham Box. Anggi Faradilla/Mica dari Lucy Enigma dipercaya menangani artwork visual dan tata letak album, mempertemukan identitas musik dengan unsur visual dalam satu karya.
Melalui penghormatan ini, perjalanan Pestolaer tidak hanya dilihat sebagai catatan masa lalu. Karya-karyanya kembali dibuka untuk ditafsirkan oleh musisi lain, sehingga cerita yang tumbuh dari skena underground Jakarta berpeluang menjangkau pendengar yang berbeda zaman. nic


