Surabaya, Musiclive.id | Surabaya baru saja menjadi saksi malam penuh nostalgia yang tak terlupakan! Pada Sabtu, 19 Oktober 2024, Ballroom Grand City Convex dipadati para penonton yang rela antre sejak selepas magrib untuk menyaksikan konser tunggal Tony Wenas bertajuk The Piano Man.

Diselenggarakan oleh PAPPRI LIVE, konser ini membawa suasana kehangatan dan persahabatan yang penuh kenangan, memadukan klasik dengan sentuhan keintiman, menjadikan malam itu istimewa bagi semua yang hadir.

Penampilan pertama yang berkolaborasi dengan Tony adalah Sara Fajira, yang memukau lewat suara anggun dan aura karismatiknya saat menyanyikan Here We’ll Stay milik Frida ‘ABBA’ Lyngstad dan Phil Collins. Jimmo, bintang Progressive Rock, menyusul dengan Why Can’t Wait Till Morning dan Follow You Follow Me dari Genesis, membawa penonton seakan mundur ke era 80-an. Lagu-lagu ini langsung membuat penonton yang duduk di meja bundar tenggelam dalam atmosfer klasik, menghadirkan memori manis dalam setiap lirik.
Tampil memukau, Eka Deli membawakan The Prayer karya Celine Dion dan Andrea Bocelli. Bersama Tony, Eka Deli menampilkan harmoni sempurna yang menggema hingga ke sudut-sudut ballroom. Penampilan kedua Sara Fajira dengan lagu energik Easy Lover membawa semua orang ikut bergoyang, seolah seluruh ballroom menjadi orkestra suara yang penuh energi.
Tony kemudian membawakan The Piano Man karya Billy Joel, yang menjadi inspirasi nama konser ini, dengan kolaborasi Sarah Saputri pada harmonika, menambah kedalaman emosi dalam lagu tersebut. Setelah satu jam pertunjukan, giliran Fariz RM tampil dengan membawa keytar merah khasnya, membawakan Hasrat & Cinta milik Andi Meriem Matalatta dengan apik. “Tony adalah adik teman gue. Karena suaranya bagus, gue ajak dia nyanyi di band Symphony. Lagu berikut ini kita buat bareng,” kata Fariz sebelum membawakan Lensa Kamar Putih. Lagu ini semakin mempererat nostalgia yang tersaji dengan manisnya malam itu.

Tak ketinggalan, Eka Deli kembali hadir dengan Kala Surya Tenggelam dari Chrisye, membawa suasana syahdu penuh memori. Kolaborasi Tony dengan Dwiki Dharmawan dan Rio Sidik pada lagu Zanzibar juga menjadi momen epik yang diwarnai canda Tony, “Dwiki pemain piano yang hebat, tapi saya pemain piano yang asik,” membuat seluruh ruangan tergelak.
Semakin mendekati penghujung konser, penonton dimanjakan dengan tembang nostalgia Love of My Life dari Queen, Carry on My Wayward Son dari Kansas, dan Lucy in the Sky with Diamonds, dengan Sarah Saputri pada harmonika dan vokal. Rio Sidik juga hadir lagi, kali ini pada lagu Galih dan Ratna dan Copacabana, mengundang semua orang untuk berdansa di tempat.

Sebagai penutup, Tony menghadirkan Bohemian Rhapsody bersama Kadri ‘Karmila’ Mohamad dan Lilo Kla Project, membuat dua jam yang penuh 22 lagu ini jadi malam yang berkesan. Dengan iringan musisi hebat seperti Krisna Prameswara (Music Director/Keyboard), Rere (Drum), dan Noldy (Gitar), konser ini adalah selebrasi perjalanan 40 tahun Tony Wenas di dunia musik, di samping kiprahnya sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia.
Lexi dari PAPPRI mengungkapkan, konser ini diharapkan dapat memberikan donasi bagi seniman musik di 22 provinsi, sama seperti yang telah dilakukan di Jakarta. “Jika konser di Jakarta membuat DPP PAPPRI bisa mendonasikan dana dari keuntungan konser kepada para seniman musik di 22 provinsi, semoga di Surabaya sama seperti Jakarta, atau bahkan bisa lebih,” tutupnya. (PR/Fajar) | Foto: Buddy Ace


