Lomba Sihir Ungkap Makna Lima Lagu Baru: Dari Rumah Tangga hingga Belajar Memahami Diri

Musiclive.id | Lima lagu baru Lomba Sihir dalam album deluxe Setelah: Obrolan Jam 3 Pagi menyimpan cerita yang beragam. Mulai dari persoalan keluarga, hubungan rumah tangga, perasaan berada di luar lingkaran pertemanan, hingga upaya memperbaiki diri.

Album deluxe tersebut dirilis pada 4 September 2026 dan menjadi kelanjutan dari album Obrolan Jam 3 Pagi yang dirilis pada 7 Mei 2025. Salah satu materi barunya, “Di Seberang”, telah diperkenalkan lebih dahulu pada 15 Juli 2026.

Lomba Sihir yang beranggotakan Natasha Udu, Rayhan Noor, Enrico Octaviano, Tristan Juliano, dan Baskara Putra alias Hindia merasa masih memiliki banyak hal yang belum selesai mereka ungkapkan melalui album sebelumnya.

“Kami sepakat bahwa ada yang lebih dalam yang bisa digali lagi dari Obrolan Jam 3 Pagi. Ada yang lebih personal yang kami ingin utarakan,” kata Udu.

Berbeda dari sekadar menambahkan lagu, proses pengerjaan materi deluxe kembali menempatkan percakapan antarpersonel sebagai bagian penting dalam proses kreatif. Hindia mengatakan setiap anggota mendapat ruang untuk merespons cerita yang disampaikan personel lainnya.

“Benar-benar duduk bareng mengerjakan semua musiknya, lalu untuk liriknya secara spesifik ada kesepakatan: ‘Terserah mau tulis apa, gue enggak intervensi. Kosongkan bagian buat gue dan gue akan merespons omongannya di situ.’ Jadi kayak judulnya, memang obrolan,” tutur Hindia.

Udu menyebut pendekatan tersebut membuat lagu-lagu mereka terasa seperti percakapan yang terjadi secara langsung di antara lima orang sahabat.

“Karena ini percakapannya di antara kami berlima, jadi kami membuat lagunya seakan-akan sedang benar-benar curhat,” ujar Udu.

Salah satu hasil dari percakapan itu adalah “Cerita Cinta”. Lagu tersebut membahas bagaimana pengalaman masa kecil dan lingkungan keluarga dapat membentuk cara seseorang memahami cinta dan hubungan.

READ  Kolaborasi DeEX dan Ato Angkasa dalam Single Baru “Tuhan Tolong”: Dream Comes True untuk Indonesia

“Manusia itu hidup mengikuti latar belakangnya, jadi kita menormalisasikan apa yang dirasakan sejak kecil sembari berkembang. Dari situ sudut pandang yang ingin gue ambil adalah cinta,” kata Udu.

Ia menilai setiap orang dapat memiliki ukuran berbeda mengenai sesuatu yang dianggap normal dalam keluarga.

“Banyak orang hidup melihat beberapa hal normal banget di keluarga mereka, padahal mungkin bagi orang lain enggak. Dan di lagu ini sifatnya lebih ke defensif, membela diri sendiri: ‘Ini yang gue rasakan. Lo seharusnya terima,’ ” tuturnya.

Namun, percakapan bersama personel lain justru membuat sudut pandang tersebut kembali dipertanyakan.

“Saat mendengar sudut pandang lain dari teman-teman, akhirnya kita sama-sama bisa saling mengerti dan refleksi diri,” ujar Udu.

Lagu “Hampir” kemudian mengambil tema berbeda. Tristan menjelaskan lagu tersebut bercerita tentang seseorang yang berada di antara dua kepentingan dan berusaha memenuhi ekspektasi dari keduanya.

“Ada kalanya seseorang itu terbagi atas kewajiban untuk memenuhi ekspektasi dari dua entitas berbeda. Misalnya, antara istri dengan ibu. Atau kebahagiaan mitra kerja dan sahabat,” kata Tristan.

Situasi tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak pernah benar-benar berhasil memenuhi harapan orang lain.

“Kadang-kadang kita enggak bisa benar-benar memenuhi ekspektasi mereka, dan kadang-kadang merasa membatin, ‘Kok gue selalu hampir?’ ” lanjutnya.

Cerita lain hadir dalam “Vas Bunga”. Enrico mengungkapkan lagu tersebut menggambarkan sosok yang hanya dapat menyaksikan kebahagiaan dan perkembangan teman-temannya dari kejauhan.

“ ‘Vas Bunga’ adalah lagu tentang salah satu dari perkumpulan kami yang cuma bisa melihat dari jauh perkembangan kami. Dia enggak berada di tengah-tengah kesenangan itu. Dia ikut senang dari jauh,” ujar Enrico.

Hindia mengakui bahwa dirinya menjadi sosok yang dimaksud dalam cerita tersebut.

READ  Viola Harahap Luncurkan Album Candu di CFD Jakarta, Aransemen Baru Lagu Legendaris Asmara Jadi Sorotan

“Jelas itu gue yang menulis,” kata Hindia.

Kesibukannya membuat Hindia tidak selalu bisa hadir ketika Lomba Sihir tampil. Perasaan tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita yang dituangkan ke dalam lagu.

Sementara itu, “Di Seberang” lahir dari keresahan Enrico mengenai kehidupan rumah tangga dan kemungkinan kehilangan orang yang dicintai. Hindia turut membantu Enrico dalam proses penulisan lagu tersebut.

“Untuk lagu itu gue merasa menjadi kendaraannya Ico untuk mengeluarkan perasaan dia,” ujar Hindia.

Enrico kemudian mengungkap pertanyaan yang menjadi titik awal lahirnya lagu tersebut.

“Lagu ini datang dari pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul di rumah tangga gue, kayak, ‘Kalau aku mati duluan, nanti kita bagaimana?’ ” ujarnya.

Adapun Rayhan membawa cerita mengenai proses seseorang memahami berbagai persoalan yang terjadi dalam hidup melalui “Sedikit demi Sedikit”.

“Orang yang sedang berusaha memahami sesuatu di hidupnya dan mencoba membaca apa yang terjadi di sekitarnya, kayak pertemanan yang tiba-tiba rusak, cita-cita yang hancur gara-gara dia sendiri, atau badan yang sudah mulai enggak sekuat dulu,” kata Rayhan.

Menurut Rayhan, berbagai persoalan tersebut pada akhirnya menumpuk dan membuat seseorang terdorong untuk melakukan perubahan.

“Itu semuanya kan menumpuk menjadi sesuatu. Orang ini ingin memperbaiki dirinya: ‘Gue mau tinggalkan semua ini sebelum gue kehilangan lebih banyak lagi,’ ” ujarnya.

Dari berbagai cerita tersebut, Lomba Sihir mencoba menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari bisa menjadi sumber inspirasi yang luas. Rayhan mengatakan kelompoknya tidak ingin membatasi warna musik yang mereka eksplorasi.

“Kami selalu membayangkan Lomba Sihir punya spektrum yang luas banget. Kami bisa main ke mana saja, kapan pun kami suka,” kata Rayhan.

Ia juga berharap album deluxe tersebut membuat pendengar lebih peka terhadap berbagai persoalan kecil yang terjadi dalam kehidupan.

READ  Dpaken Band Siap Menggebrak Industri Musik Indonesia dengan Single CERITA CINTA

“Gue selalu bilang dari dulu kalau Obrolan Jam 3 Pagi secara album seharusnya membuat kita melihat lebih dekat ke hidup sendiri. Ditambah yang edisi deluxe ini, menjadi lebih dalam dan lebih dekat lagi karena banyak banget hal kecil yang mungkin kita enggak sadar ada di sekitar tapi ternyata itu berpengaruh banyak banget sama hidup kita,” ujar Rayhan.

Lomba Sihir selanjutnya akan membawa materi tersebut ke panggung, termasuk dalam Konser Ujung Dunia di GBK Basketball Hall, Jakarta, pada 21 November 2026.

Enrico berharap Setelah: Obrolan Jam 3 Pagi dapat diterima oleh pendengar dengan pengalaman yang berbeda-beda.

“Semoga yang merasa punya cerita yang sama maupun enggak bisa menikmati Setelah: Obrolan Jam 3 Pagi,” ujarnya. nic

Latest

- Advertisement - spot_img

You might also like...