Musiclive.id | Sebuah puisi dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori kini bertransformasi menjadi karya musik. Berjudul Matilah Kau Mati, lagu tersebut menjadi Original Soundtrack (OST) film Laut Bercerita yang diproduksi Pal8 Pictures dan disutradarai Yosep Anggi Noen.
Proyek musik ini mempertemukan Efek Rumah Kaca dengan Knogg, musisi yang juga dikenal sebagai Angan Senja. Menariknya, Knogg merupakan putra dari vokalis ERK, Cholil Mahmud.
Dalam produksi lagu tersebut, Cholil bersama Efek Rumah Kaca mengembangkan materi musik, sementara Knogg menangani aransemen sekaligus bertindak sebagai produser. Liriknya merupakan hasil kolaborasi Leila S. Chudori, Sutardji Calzoum Bachri, dan Cholil Mahmud.
Bagi Cholil, proyek ini menjadi kesempatan untuk menerjemahkan semangat yang sudah hidup di dalam novel dan film ke dalam bahasa musik.
“Lagu Matilah Kau Mati ingin menggandakan semangat yang sudah ada di dalam film dan novelnya. Bahwa semangat baik sebenarnya bertebaran di banyak tempat dan bisa menghasilkan sesuatu yang baik juga, asalkan kita mau mengubah dan mentransformasikannya,” kata Cholil Mahmud.
Ide awal kolaborasi datang dari Leila Chudori. Ia meminta Cholil menggarap OST film Laut Bercerita dan menawarkan puisinya yang berjudul Di Hari Kematianku.
Cholil kemudian mengolah puisi tersebut melalui beberapa demo musik yang telah dimilikinya. Pada tahap berikutnya, Knogg masuk membawa pendekatan elektronik yang memperluas karakter musikal lagu.
Eksplorasi tersebut sekaligus membuka wilayah baru bagi Efek Rumah Kaca. Cholil menyebut penggunaan synthesizer dan MIDI dalam Matilah Kau Mati menjadi sesuatu yang relatif jarang digunakan ERK sebelumnya.
Knogg kemudian memperkuat karakter tersebut dengan suara synth yang tajam, terdistorsi, serta bernuansa dissonance. “Instrumen yang ingin saya tonjolkan adalah suara synth yang tajam, yang terdistorsi, itu ada di bagian chorus (reff) lagunya,” ujar Knogg.
Menurutnya, suara terdistorsi menjadi salah satu pendekatan yang ia sukai untuk menciptakan ketegangan. “Saya memang selalu ingin bikin lagu dengan synth yang terdistorsi dan mempunyai nada dissonance seperti itu. Saya lebih suka sesuatu yang terdistorsi ketika membangun ketegangan. Selain itu, saya menaruh instrumen snare di bagian akhir,” tutur Knogg.
Hasil akhirnya terdengar minimalis sekaligus atmosferik. Gitar menjadi fondasi, kemudian electric piano dan synthesizer mengisi ruang yang membuat lagu terasa seperti nyala kecil di tengah kegelapan.
Namun, energi lagu tidak berhenti pada tekstur suara. Pesan perlawanan justru diperkuat melalui pengembangan bagian chorus.
Knogg mengaku banyak terinspirasi oleh karya-karya sang ayah bersama Efek Rumah Kaca. Dalam Matilah Kau Mati, ia ingin menghadirkan keresahan sebagai simbol perlawanan dan kebebasan bersuara dalam ruang demokrasi. “Di bagian pertengahan lagu, di bagian chorus, awalnya belum ada fighting spirit-nya,” ujar Knogg.
Dari proses kreatif bersama Cholil, ia kemudian memberikan dorongan musikal agar lagu tersebut mempunyai energi yang lebih kuat untuk mengajak pendengar menggunakan kebebasan mereka. “Akhirnya saya memutuskan untuk menambahkan lebih banyak pergerakan, lebih banyak fighting spirit di lagu,” ungkapnya.
Dari sisi lirik, Leila menggabungkan puisi Di Hari Kematianku dengan larik ikonik “Matilah Kau Mati/Kau Akan Lahir Berkali-kali” yang muncul dalam novel dan diucapkan oleh tokoh Laut.
Larik tersebut diciptakan oleh Sutardji Calzoum Bachri. Karena itu, Leila menegaskan nama Sutardji harus masuk dalam deretan pencipta lirik.
Leila kemudian menjelaskan mengapa larik tersebut begitu penting bagi keseluruhan pesan lagu. “Meski kita dibungkam atau dipaksa agar takut berbicara, pasti akan bertumbuh keberanian lain di mana-mana. Kita yang dibungkam, orang lain akan bicara. Orang lain dibungkam, akan ada lagi yang berbicara,” kata Leila.
Ia menilai keberanian tidak dapat benar-benar dimatikan. “Keberanian itu tidak akan pernah mati. Mungkin saat ini kita merasa keberanian itu dibungkam, dikubur, tapi akan lahir berkali-kali. Keberanian itu akan lahir di mana saja,” lanjutnya.
Lagu Matilah Kau Mati akhirnya menjadi titik pertemuan antara puisi, novel, film, dan musik. Karya tersebut mulai tersedia di seluruh platform streaming digital.
Adapun film Laut Bercerita dijadwalkan hadir di bioskop Indonesia pada Oktober 2026. Film ini diproduksi Pal8 Pictures bersama VMS Studio, Jagartha Lynx Films, dan Brandlink.
Film disutradarai Yosep Anggi Noen dengan skenario yang ditulis bersama Leila S. Chudori. Leila juga menjadi produser bersama Gita Fara dan Budi Setyarso.
Deretan pemainnya antara lain Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Nagra Kautsar, Ibnu Jamil, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy. nic


