Musiclive.id | Lagu legendaris “Rindu” yang dipopulerkan oleh Fryda Lucyana kembali mencuri perhatian publik setelah mendapatkan momentum baru di berbagai platform musik digital. Kebangkitan lagu era 90-an ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan digitalisasi arsip musik hingga dukungan layanan streaming global.
Fryda mengaku bersyukur sekaligus terharu melihat karyanya kembali diterima lintas generasi, termasuk oleh pendengar muda yang sebelumnya belum pernah mengenal lagu tersebut.
“Dari November tahun lalu sampai sekarang, lagu Rindu masih di posisi teratas playlist nostalgia. Saya benar-benar bersyukur,” ungkap Fryda Lucyana.
Perjuangan Panjang Temukan Arsip Video Klip “Rindu”
Dalam pertemuan di ruang kerjanya pada 4 Juni 2026, Fryda Lucyana—yang kini menjabat sebagai Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Kebudayaan RI—menceritakan kembali perjalanan panjang lagu tersebut sejak pertama kali direkam pada tahun 1995.
Salah satu titik penting kebangkitan lagu “Rindu” terjadi saat video klip aslinya akhirnya berhasil ditemukan setelah pencarian selama hampir dua tahun. Fryda secara konsisten berkomunikasi dengan label Aquarius Musikindo untuk menelusuri arsip lama yang sempat dianggap hilang.
“Saya ingat dulu Aquarius pernah merilis album karaoke ‘Hits of The Year’ yang memuat lagu Rindu. Jadi saya yakin video klipnya pasti ada,” jelasnya.
Proses pencarian tersebut tidak mudah. Bahkan pihak label sempat meragukan keberadaan arsip video tersebut. Namun setelah penelusuran panjang, materi tersebut akhirnya ditemukan dan kemudian melalui proses restorasi digital untuk meningkatkan kualitas visualnya.
Hasilnya kemudian diunggah ulang dan langsung mendapat respons positif, termasuk dari generasi muda yang baru pertama kali mendengarkan karya tersebut.
Spotify Dorong Popularitas Baru Lewat Playlist Nostalgia
Kebangkitan “Rindu” semakin terasa ketika platform streaming Spotify menempatkan Fryda Lucyana sebagai wajah utama playlist Nostalgia 90-an. Tak hanya itu, lagu “Rindu” juga menempati posisi teratas dalam daftar putar tersebut selama berbulan-bulan.
Fryda mengaku tidak menyangka lagu yang telah berusia puluhan tahun itu masih mampu bertahan di tengah derasnya persaingan musik modern.
“Biasanya cover playlist itu cepat berganti, tapi ini sudah setengah tahun masih menggunakan foto saya dan Rindu tetap nomor satu,” katanya.
Selain “Rindu”, lagu lain seperti “Segala Rasa Cinta” juga masih bertahan dalam playlist yang sama, memperkuat posisi Fryda sebagai salah satu ikon musik era 90-an yang tetap relevan hingga kini.
Di Balik Kesibukan sebagai Pejabat, Musik Tetap Jadi Ruang Ekspresi

Meski kini disibukkan dengan tugasnya sebagai pejabat tinggi di Kementerian Kebudayaan RI, Fryda tetap aktif di dunia musik. Ia masih kerap tampil di berbagai acara, membawakan lagu-lagu yang membesarkan namanya sekaligus karya-karya klasik Indonesia lainnya.
Namun ia mengakui bahwa aktivitas promosi digital pribadinya masih terbatas karena padatnya pekerjaan.
“Saya sering punya rencana untuk aktif di media sosial, tapi kadang belum sempat. Masih jadi cita-cita yang tertunda,” ujarnya sambil tertawa.
Tampil di Prambanan Jazz Festival 2026, Rayakan Musik Lintas Generasi
Momentum kebangkitan lagu “Rindu” juga beriringan dengan rencana penampilan Fryda Lucyana di Prambanan Jazz Festival 2026 yang akan digelar di Yogyakarta pada 4 Juli 2026.
Dalam beberapa penampilannya, ia masih membawakan “Rindu” serta “Panggung Sandiwara”, lagu yang memiliki nilai emosional tersendiri karena keterkaitan dengan sastrawan Taufiq Ismail.
Bagi Fryda, musik bukan sekadar nostalgia, tetapi juga jembatan untuk menghubungkan generasi lama dan baru dalam satu ruang apresiasi yang sama.
Warisan Musik 90-an Kembali Hidup di Era Digital
Kembalinya popularitas “Rindu” menjadi bukti bahwa karya musik Indonesia era 90-an masih memiliki tempat kuat di hati pendengar. Fryda berharap momentum ini dapat membuka jalan bagi lebih banyak lagu lawas untuk kembali diperkenalkan kepada generasi muda melalui platform digital.
Menurutnya, karya-karya tersebut merupakan bagian penting dari sejarah musik Indonesia yang patut dijaga dan diwariskan lintas generasi.
Dengan kebangkitan “Rindu”, Fryda Lucyana sekali lagi membuktikan bahwa musik yang lahir dari ketulusan tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu waktu untuk kembali ditemukan.


