The Jansen Hadirkan “andai kita tumbuh besar nanti”, Lagu Tentang Luka yang Berubah Jadi Harapan

Musiclive.id | Tidak banyak lagu yang berani membicarakan luka masa kecil tanpa terjebak pada rasa marah atau keinginan menyalahkan. Melalui single terbaru “andai kita tumbuh besar nanti”, grup musik asal Bogor The Jansen justru menawarkan sudut pandang berbeda. Band yang dikenal lewat lirik-lirik lugas dan dekat dengan realitas anak muda itu mengajak pendengarnya berdamai dengan masa lalu sekaligus berani memutus siklus trauma keluarga.

Single yang menjadi bagian dari album terbaru Romantisasi Impulsif ini menjadi kelanjutan perjalanan musikal The Jansen setelah lebih dulu merilis “bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)”. Jika lagu sebelumnya banyak berbicara mengenai dinamika hubungan, “andai kita tumbuh besar nanti” justru menyentuh sisi yang lebih personal, yakni bagaimana pengalaman masa kecil membentuk seseorang hingga dewasa.

Bassist sekaligus penulis lirik Adji Pamungkas mengungkapkan bahwa ide lagu tersebut lahir dari berbagai cerita yang ditemuinya melalui buku-buku yang ia baca, termasuk novel Orexas karya Remy Sylado.

“Gue nulis lagu ini setelah baca-baca cerita dan diksi dari berbagai sumber. Di dalamnya, gue nemuin hal-hal kayak ‘papi hanyut sama masalahnya’, ‘mami gak peduli’, dan ‘kejebak dalam pamer sosialita’,” ujar Adji.

Potongan-potongan kisah itu kemudian berkembang menjadi sebuah cerita mengenai seorang anak yang berusaha memahami masa lalunya tanpa kehilangan harapan untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Menurut Adji, hampir semua orang memiliki pengalaman yang membekas selama masa kecil. Karena itu, lagu tersebut dibuat agar siapa pun bisa merasa terhubung dengan cerita yang disampaikan.

“Buat gue, banyak orang pasti punya trauma masa kecil. Setiap keluarga punya masalahnya masing-masing,” katanya.

Meski mengangkat isu yang sensitif, Adji menegaskan bahwa The Jansen tidak ingin menjadikan lagu ini sebagai ruang untuk menyudutkan orang tua.

READ  Musik Keumalahayati Kini Hidup di Platform Digital, GCN dan BSS Records Luncurkan Album Original Cast

Sebaliknya, band ini ingin mengajak generasi muda melihat persoalan tersebut secara lebih bijak. Baginya, setiap generasi hidup dalam tantangan yang berbeda sehingga penyelesaiannya pun tidak bisa dilakukan dengan saling menyalahkan.

“Kalau kita cuma nyalahin, ujung-ujungnya balik lagi ke keadaan. Tiap zaman berbeda. Orang tua kita hidupnya enggak seberuntung kita, akses pendidikannya juga enggak kayak sekarang,” jelas Adji.

Ia berharap lagu tersebut mampu menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menghentikan pola pengasuhan yang buruk agar tidak terus diwariskan.

“Gue pengen poinnya bukan buat nyalahin, tapi lebih ke ‘stop di gue aja’. Hari ini kita punya akses ke ilmu psikologi, parenting, dan kesadaran mental health. Ini tugas generasi muda: memutus rantai itu, biar kelak sebagai orang tua kita tak mengulangi hal serupa,” tuturnya.

Dalam proses kreatifnya, Adji mengaku sempat mencoba berbagai pilihan kata sebelum akhirnya menetapkan kata “tumbuh” sebagai inti dari keseluruhan lagu.

Menurutnya, tumbuh bukan sekadar menjadi dewasa, melainkan melalui proses belajar, memperbaiki diri, dan berani mengambil keputusan agar kehidupan berikutnya menjadi lebih baik.

“Gue udah coba berbagai diksi, tapi ujung-ujungnya balik lagi ke kata ‘tumbuh’. ‘Tumbuh’ dan ‘kembang’ itu jadi satu paket, ada proses. Dan cara Johan, cara The Jansen dalam melihat trauma ini bukan cuma berdamai, tapi memutus. Itu kata yang paling pas buat gue, memutus siklus trauma keluarga,” ungkapnya.

Di balik lirik yang reflektif, The Jansen tetap mempertahankan identitas musikalnya yang enerjik. Lagu ini terinspirasi dari warna musik alternatif era pertengahan 2000-an, dengan sentuhan gitar yang manis, permainan ritme yang dinamis, serta nuansa yang mengingatkan pada karya-karya Monkey to Millionaire, The Sastro, Float, Zeke and The Popo, hingga musik pengiring film-film ikonik seperti Janji Joni, Gie, dan 3 Hari untuk Selamanya.

Vokalis Cinta Rama Bani Satria atau Bani mengaku langsung memiliki ikatan emosional dengan lagu tersebut sejak pertama kali membaca lirik yang ditulis Adji.

READ  Hard Lights Gandeng BEAUZ dan Solar State, Rilis ‘Mad World’ yang Soroti Realita Dunia Modern

“Ketika Adji ngasih lirik ini, yang pertama terbersit ialah sebuah usaha seorang anak untuk membuktikan kepada orang tuanya kalau jalan yang ia pilih tidak akan sia-sia,” kata Bani.

Menurutnya, kisah dalam lagu itu sangat dekat dengan perjalanan hidup yang pernah ia alami sehingga proses penciptaan melodi berlangsung secara alami.

“Cerita itu mengingatkan perjalanan hidup saya yang hampir mirip dan terciptalah nada-nada itu di kepala saya,” ujarnya.

Interpretasi tersebut membuat lagu “andai kita tumbuh besar nanti” terdengar begitu personal sekaligus menyentuh. Perpaduan lirik yang jujur, melodi yang mudah diingat, serta energi khas The Jansen menjadikan lagu ini bukan hanya enak didengar, tetapi juga mengandung pesan yang relevan bagi banyak orang.

Melalui karya terbaru ini, The Jansen kembali membuktikan bahwa musik dapat menjadi medium untuk membicarakan persoalan-persoalan yang sering kali sulit diungkapkan secara langsung. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, mereka mengajak pendengar melihat luka masa lalu bukan sebagai alasan untuk terus menyalahkan keadaan, melainkan sebagai titik awal untuk bertumbuh, memperbaiki diri, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Single “andai kita tumbuh besar nanti” telah tersedia di seluruh platform musik digital bersamaan dengan video lirik garapan Yustinus Kristianto. Sementara album Romantisasi Impulsif dijadwalkan meluncur secara digital pada 22 Juli 2026, disusul perilisan format fisik berupa CD dan vinyl melalui P-Vine Records di Jepang serta kaset melalui Miles Records di Malaysia, memperluas jangkauan karya The Jansen ke pasar musik independen Asia. nic

Latest

- Advertisement - spot_img

You might also like...